Sumber foto : Arsip GTI – Roadshow Berani Bicara Nuklir – ITB
Ketika berbicara tentang Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), pembahasan sering kali berhenti pada teknologi reaktor, keselamatan, atau kapan Indonesia akan mulai membangun. Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: sejauh mana industri Indonesia dapat mengambil bagian dalam pembangunan PLTN?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Roadshow Sosialisasi PLTN bertajuk “Berani Bicara Nuklir: Fakta, Manfaat, Risiko, dan Masa Depan PLTN di Indonesia” yang diselenggarakan Global Transport, Training, and Trading Indonesia (GTI) bersama Badan Keahlian Teknik Nuklir–Persatuan Insinyur Indonesia (BKTN-PII) di Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, pada 31 Agustus 2026. Berbeda dari roadshow di UGM yang menitikberatkan kesiapan sumber daya manusia, diskusi di ITB mengangkat kesiapan teknologi dan industri, termasuk peluang penguatan industri nasional dan lokal dalam mendukung pembangunan PLTN.
TKDN Bukan Sekadar Angka
Dalam pembangunan PLTN, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persentase berapa banyak komponen lokal yang digunakan. Lebih jauh dari itu, TKDN mencerminkan seberapa besar kemampuan industri Indonesia untuk menguasai teknologi dan mengerjakan bagian dari proyek tersebut dengan kapasitas sendiri.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Ir. Faridah, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., Ketua Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) UGM, membahas penguatan TKDN sebagai bagian dari strategi membangun kapabilitas nasional. Perspektif ini menempatkan keterlibatan industri bukan hanya pada besarnya porsi komponen lokal, tetapi juga pada kemampuan yang dapat dikembangkan, dikuasai, dan dipertahankan oleh industri Indonesia.
Untuk mencapai hal tersebut, peningkatan TKDN perlu didukung pemetaan kemampuan industri yang sudah tersedia, identifikasi kesenjangan teknologi dan kompetensi, serta pengembangan kapasitas sesuai kebutuhan proyek. Peningkatan TKDN perlu berjalan seiring dengan pemenuhan standar mutu, persyaratan teknis, dan ketentuan keselamatan yang berlaku. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, melainkan memastikan bahwa industri nasional memiliki kemampuan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan pembangunan PLTN.
Sumber : Materi Prof. Faridah, “Penguatan Riset, Kapasitas Industri, dan Insentif sebagai Strategi Peningkatan TKDN dalam Pembangunan PLTN”, Roadshow Berani Bicara Nuklir di ITB, 31 Agustus 2026.
Ketika Riset Tidak Berhenti di Kampus
Kesiapan teknologi nasional untuk mendukung pembangunan PLTN tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melakukan penelitian, tetapi juga oleh bagaimana hasil riset dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan nyata. Dalam pemaparannya, Prof. Faridah menekankan pentingnya perjalanan “dari riset ke industri” melalui hilirisasi dan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri. Penelitian yang kuat akan memiliki dampak lebih besar ketika hasilnya dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi solusi nyata, bukan hanya berhenti pada publikasi atau purwarupa.
Sumber : Materi Prof. Faridah, “Penguatan Riset, Kapasitas Industri, dan Insentif sebagai Strategi Peningkatan TKDN dalam Pembangunan PLTN”, Roadshow Berani Bicara Nuklir di ITB, 31 Agustus 2026.
Sebagai gambaran konkret, sejumlah hasil riset DTNTF UGM juga ditunjukkan telah berhasil dikembangkan hingga tahap hilirisasi dan komersialisasi. Hal ini memperlihatkan bagaimana hasil penelitian dapat memiliki nilai guna dan peluang penerapan di luar lingkungan akademik. Dalam konteks pengembangan teknologi PLTN, pendekatan serupa menjadi relevan: hasil riset perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri melalui pengujian, pengembangan, dan kolaborasi berkelanjutan, dengan dukungan tenaga ahli, fasilitas, investasi, serta pemenuhan persyaratan teknis agar teknologi yang dikembangkan siap diterapkan.
Apa yang Perlu Disiapkan Industri Nasional?
Dari perspektif industri, Dr. Eng. Indarta Kuncoro Aji, Direktur PT Kakiatna Enjiniring, menyoroti pentingnya kesiapan industri nasional dan lokal dalam mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Keterlibatan industri dalam proyek PLTN perlu dilihat dari kemampuan nyata yang dimiliki, termasuk kompetensi teknis, kapasitas produksi, serta kemampuan memenuhi persyaratan dan standar yang dibutuhkan.
Kesiapan tersebut juga berkaitan dengan peluang industri nasional untuk mengambil bagian dalam rantai pasok PLTN. Kontribusi industri tidak terbatas pada pembuatan komponen utama reaktor, tetapi dapat mencakup berbagai barang dan jasa pendukung sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan proyek. Karena itu, penguatan industri nasional perlu diiringi dengan pemetaan kemampuan yang sudah tersedia, identifikasi kebutuhan pengembangan, serta peningkatan kapasitas agar industri lokal dapat memenuhi persyaratan teknis dan mutu yang berlaku.
Dengan demikian, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) perlu berjalan seiring dengan penguatan kapabilitas industri. Peluang keterlibatan industri nasional tidak cukup hanya dilihat dari target penggunaan produk dalam negeri, tetapi juga dari kesiapan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan proyek secara konsisten dan andal. Pendekatan ini menjadi penting agar pembangunan PLTN tidak hanya mendukung penyediaan energi, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan kemampuan dan peran industri nasional.
Membangun PLTN, Membangun Kemampuan Industri Indonesia
Pembangunan PLTN bukan hanya tentang menyediakan sumber energi, tetapi juga menghadirkan kesempatan untuk memperkuat kemampuan industri nasional. Peluang tersebut dapat terwujud melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan teknologi, pemanfaatan hasil riset, dan keterlibatan perusahaan Indonesia dalam rantai pasok.
Diskusi dalam Roadshow Berani Bicara Nuklir di ITB mengingatkan bahwa kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan. Penguatan TKDN perlu ditopang oleh kapabilitas industri, hasil riset perlu dihubungkan dengan kebutuhan nyata, dan peluang rantai pasok perlu diikuti dengan peningkatan kompetensi serta pemenuhan persyaratan teknis.
Dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha, pembangunan PLTN dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem teknologi dan industri nasional.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan PLTN tidak hanya berkaitan dengan energi yang dihasilkan, tetapi juga dengan kemampuan industri yang tumbuh di dalam negeri. Semakin baik industri Indonesia mempersiapkan diri, semakin besar pula peluang untuk mengambil bagian dalam pembangunan tersebut dan membangun kapasitas yang bermanfaat bagi masa depan.
Mari berdiskusi bersama pada Roadshow Berani Bicara Nuklir! Klik link dibawah untuk registrasi:
🔗 Pre-register: bit.ly/PreReg_RoadshowGTI3
📞 0811-9224-277
🌐 www.globaltransportindonesia.com

